BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tujuan
pendidikan merupakan sesuatu yang penting dalam pendidikan. Sebab tanpa tujuan
yang jelas pendidikan akan menjadi tanpa arah dan sesat, bahkan salah langkah
dan tidak sesuai dengan harapan. Demikian juga dengan pendidikan Islam yang
berusaha untuk membentuk pribadi manusia melalui proses yang panjang dengan
suatu tujuan pendidikan yang jelas.
Akan
tetapi kadang suatu yang direncanakan tidak sesuai dengan harapan dikarenakan
kurangnya pemahaman tentang tujuan pendidikan.
Berdasarkan
masalah tersebut di atas, banyak sekali ditemukan kasus-kasus yang tidak sesuai
dengan tujuan pendidikan seperti korupsi, plecehan seksual, kekerasan dan lain
sebagainya yang dilakukan oleh seorang yang mengenyam atau bahkan telah
menyelesaikan sebuah pendidikan Islam. Kejadian ini dapat diidentifikasi sebagai
kurangnya pemahaman tentang hakekat tujuan pendidikan Islam.
Dari
contoh kejadian di atas, dapat diambil suatu pertanyaan, “bagaimanakah
sebetulnya hakekat tujuan pendidikan Islam itu?” Realitas ini sangat penting
untung dibahas dalam makalah ini.
Untuk
itu pembahasan makalah ini diangkat untuk mengungkap masalah-masalah tersebut.
Berdasarkan keterangan-keterangan, telah ditemukan pernyataan para ulama’
maupun pakar dalam menjelaskan hakekat tujuan pendidikan Islam dan hal-hal yang
terkait dengan itu.
Selanjutnya,
berangkat dari latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulis akan
membahas tentang “Hakekat Tujuan Pendidikan Islam”.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian
tujuan pendidikan Islam?
2.
Apa macam-macam
tujuan pendidikan Islam?
C. Tujuan Pemakalah
1.
Memahami akan
tujuan pendidikan Islam.
2.
Memahami
macam-macam tujuan pendidikan Islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tujuan Pendidikan Islam
Sebelum membahas ke arah tujuan pendidikan, pemakalah
akan mencoba menguraikan tentang pengertian pendidikan terlebih dahulu,
Dalam Bahasa Indonesia kata pendidikan berasal dari
kata didik yang mendapatkan awalan “pen” dan akhiran “an”. Kata tersebut
mempunyai arti perbuatan (hal, cara dan sebagainya).[1]
Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan
sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai
didalam masyarakat dan kebudayaan.
Kenyataannya, pengertian pendidikan ini selalui
mengalami perkembangan, meskipun secara esensial tidak jauh berbeda. Berikut
ini akan dikemukakan sejumlah pengertian pendidikan yang diberikan oleh paa
ahli, yaitu:
a. Jhon
Dewey
Pendidikan adalah
proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan
emosional kearah alam dan sesama manusia.[2]
b. J.
J. Rousseau
Pendidikan adalah
memberi kata perbekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak akan tetapi kita
membutuhkannya pada waktu dewasa.[3]
c. Ki
Hajar Dewantara
Pendidikan yaitu
tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksudnya pendidikan yaitu
menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai
manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[4]
Dari beberapa pemaparan pendidikan tersebut diatas
meskipun berbeda-beda secara redaksional namun secara esensial terdapat
kesatuan unsur-unsur atau faktor-faktor yang terdapat didalamnya, yaitu bahwa
pengertian pendidikan tersebut menunjukkan suatu proses bimbingan, tuntunan
atau pimpinan yang didalamnya mengandung unsur-unsur seperti pendidik, anak
didik, tujuan dan sebagainya.
Pendidikan haruslah mempunyai tujuan yang jelas,
karena pendidikan tanpa tujuan bisa menjadi sesat, secara umum tujuan
pendidikan adalah menjadikan insan yang berbudi dan ber-ilmu.
Secara lebih luas al-Syaibani mengemukakan: menurut
al-Syaibani “Yang dimaksud dengan tujuan pendidikan adalah perubahan yang
diinginkan yang diusahakan oleh proses pendidikan, baik pada tingkah laku
individu dan pada kehidupan pribadinya, atau pada kehidupan masyarakat dan alam
sekitar tempat individu itu hidup atau pada proses pendidikan dan pengajaran,
sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi-profesi
asasi dalam masyarakat”.[5]
Dan Tujuan pendidikan Islam yaitu sebuah proses yang
dilakukan untuk menciptakan manusia seutuhnya; beriman dan bertakwa kepada
Allah SWT. Serta mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah Allah di muka
bumi, yang berdasarkan kepada ajaran al-Quran dan Sunnah, maka tujuan dalam
konteks ini berarti terciptanya insan-insan kamil dan cendikiawan-cendikiawan
muslim yang bagus setelah proses pendidikan berakhir.[6]
Berikut ini tujuan pendidikan Islam menurut
prespektif beberapa para ahli:
1. Abdurrahman
Saleh Abdullah
Pendidikan Islam
bertujuan untuk membentuk kepribadian sebagai Khalifah Allah Swt. Atau
sekurang-kurangnya mempersiapkan ke jalan yang mengacu pada tujuan akhir.
Tujuan utama adalah beriman kepada Allah dan tunduk serta patuh total
kepada-Nya.
2. Imam
Al-Ghazali
Tujuan pendidikan
menurut Imam Al-Ghazali terbagi menjadi dua, yaitu;
a. Tercapainya
kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah Swt.
b. Tercapainya
kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat.[7]
Dari
uraian diatas Al-Ghazali merumuskan bahwa tujuan pendidikan secara umum
menyempurnakan manusia. Yakni manusia yang hidup bahagia di dunia dan akhirat.[8]
3. Hasan
Langgulung
Tujuan pendidikan Islam
harus mampu mengakomodasikan tiga fungsi utama dari agama, antara lain:
a. Fungsi
Spiritual, yaitu berkaitan dengan aqidah dan iman
b. Fungsi
Psikolois, yaitu yang berkaitan dengan tingkah laku individu termasuk
nilai-nilai akhlak yang mengangkat derajat manusia ke derajat yang lebih
sempurna.
c. Fungsi
Sosial, yaitu berkaitan dengan aturan-aturan yang menghubungkan manusia dengan
manusia lain atau masyarakat, yang mana masing-masing mempunyai hak untuk
menyusun masyarakat yang harmonis dan seimbang.[9]
4. Ibnu
Khaldun
Di dalam Kitab Muqaddimahnya ia tidak merumuskan tujuan pendidikan secara
jelas, akan tetapi dari uraian yang tersirat, dapat diketahui tujuan yang
seharusnya dicapai di dalam pendidikan. tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun,
ada enam tujuan yang hendak dicapai melalui pendidikan, antara lain:
a.
Menyiapkan seseorang
dari segi keagamaan, yaitu dengan mengajarkan syair-syair agama menurut
al-Qur'n dan Hadits Nabi sebab dengan jalan itu potensi iman itu diperkuat,
sebagaimana dengan potensi-potensi lain yang jika kita mendarah daging, maka ia
seakan-akan menjadi fithrah.
b.
Menyiapkan seseorang
dari segi akhlak. Karena hakekat pendidikan menurut Islam sesungguhnya adalah
menumbuhkan dan membentuk kepribadian manusia yang sempurna melalui budi luhur
dan akhlak mulia.
c.
Menyiapkan seseorang
dari segi kemasyarakatan atau sosial.
d.
Menyiapkan seseorang
dari segi vokasional atau pekerjaan. Ditegaskannya tentang pentingnya pekerjaan
sepanjang umur manusia, sedang pengajaran atau pendidikan menurutnya
termasuk di antara ketrampilan-ketrampilan itu.
e.
Menyiapkan seseorang
dari segi pemikiran, sebab dengan pemikiran seseorang dapat memegang berbagai
pekerjaan atau ketrampilan tertentu.
f.
Menyiapkan seseorang
dari segi kesenian, di sini termasuk musik, syair, khat, seni bina dan
lain-lain.
Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan bukan
hanya bertujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan akan tetapi juga untuk
mendapatkan keahlian.
Dari
beberapa pemaparan yang berbeda-beda oleh para ahli di atas, akan tetapi
sejatinya tujuan pendidikan itu sama jika di tarik kesimpulan maka akan
ditemukan jawaban yang sama tentang tujuan pendidikan yaitu:
1. Tujuan
yang berorientasi pada akhirat, yaitu membentuk hamba-hamba Allah yang dapat
melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada Allah.
2. Tujuan
yang beroientasii pada dunia, yaitu membentuk manusia-manusia yang mampu
menghadapi segala bentuk kehidupan yang lebih layak dan bermanfaat bagi orang
lain.
B. Macam-Macam Tujuan Pendidikan Islam
Macam-macam tujuan
pendidikan menurut islam yaitu:
1. Tujuan
umum
Tujuan
yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau
dengan cara yang lainnya. Tujuan umum lebih bersifat empirik dan realistik.
Tujuan umum berfungsi sebagai arah yang taraf pencapaiannya dapat diukur karena
menyangkut perubahan sikap, prilaku dan kepribadian peserta didik. An Nahlawy
menunjukkan empat tujuan umum dalam pendidikan Islam, yaitu:
a. Pendidikan
akal dan persiapan pikiran
b. Menumbuhkan
potensi-potensi dan bakat-bakat asal pada anak didik
c. Menaruh
perhatian pada kekuatan dan potensi generasi muda dan mendidik mereka
sebaik-baiknya, baik laki-laki maupun perempuan.
d. Berusaha
untuk menyumbangkan segala potensi-potensi dan bakat-bakat manusia.[10]
2. Tujuan
akhir/ puncak
Terwujudnya insan kamil (manusia
paripurna).[11]
Menurut al Abrasyi, merinci tujuan akhir
pendidikan islam sebagai berikut:
a. Pembinaan
akhlak
b. Menyiapkan
anak didik untuk hidup di dunia dan akhirat
c. Penguasaan
ilmu
d. Keterampilan
bekerja dalam masyarakat.
Menurut asma hasan fahmi, tujuan akhir
pendidikan islam dapat diperinci sebagai berikut:
a. Tujuan
keagamaan
b. Tujuan
pengembangan akal
c. Tujuan
pengajaran kebudayaan
d. Tujuan
pembicaraan kepribadian
Menurut munir mursi, tujuan pendidikan
islam yaitu:
a. Bahagia
di dunia dan akhirat
b. Menghambakan
diri kepada Allah
c. Memperkuat
ikatan ke islaman dan melayani kepentingan masyarakat Islam
d. Akhlak
mulia.
Bila
tujuan pendidikan seperti apa yang disampaikan oleh Asma Hasan al-Fahmi dan
Munir Mursyi, maka tujuan pendidikan adalah pengembangan akal dan akhlak yang
dalam akhirnya dipakai untuk menghambakan diri kepada Allah Swt. Manusia
mempunyai aspek rohani seperti yang di jelaskan dalam surat al-Hijr ayat 29:
فَإِذَا
سَوَّيۡتُهُۥ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ٢٩
Artinya:
“Maka
apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya
ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”.
(Q.S. Al-Hijr: 29)
Dan juga tujuan akhir pendidikan Islam itu dapat
dipahami dari firman Allah Swt dalam surat al-Imran: 102:
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢
Artinya:
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam”.
(Q.S. Al-Imran: 102)
Jadi insan kamil yang mati dalam keadaan berserah
diri kepada Allah inilah yang merupakan tujuan akhir dari pendidikan Islam.[12]
3.
Tujuan
Sementara
Yaitu tujuan yang akan
dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang
direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Atau tujuan sementara
adalah sasaran sementara yang harus dicapai oleh umat Islam yang melaksanakan
pendidikan Islam. Maksudnya yaitu tercapainya berbagai kemampuan seperti
kecakapan jasmaniah, pengetahuan mambaca, menulis, pengetahuan ilmu-ilmu
kemasyarakatan, kesusilaan, keagamaan, kedewasaan jasmani-rohani dan
sebagainya.[13]
Sedangkan di dalam tujuan pendidikan Islam, Marima
mengemukakan dua macam tujuan, yaitu:
1.
Tujuan
sementara
Yaitu
sasaran sementara yang harus dicapai oleh umat Islam yang melaksanakan
pendidikan Islam. Maksudnya yaitu tercapainya berbagai kemampuan seperti
kecakapan jasmaniah, pengetahuan membaca, menulis, pengetahuan ilmu-ilmu
kemasyarakatan, kesusilaan, kegamaan, kedewasaan jasmani-rohani dan sebagainya.[14]
2.
Tujuan
Akhir
Yaittu
terwujudnya kepribadian muslim yang terdiri dari aspek-aspek kejasmanian,
aspek-aspek kejiwaan dan aspek-aspek kerohanian yang luhur. Tujuan akhir
pendidikan Islam adalah terciptanya insan kamil. Menurut Muhaimin bahwa insan
kamil adalah manusia yang mempunyai wajah Qura’ani, terciptanya insan yang
memiliki dimensi religius, budaya dan ilmiyah.
Sedangkan Abdul Fatah
jalal mengelompokkan tujuan pendidikan Islam juga menjadi dua macam, yaitu:
1.
Tujuan
Umum
Yaitu
menjadikan manusia sebagai abdi atau hamba Allah Swt. Yang senantiasa
mengagungkan dan membesarkan asma Allah Swt, dengan meneladani Rasulullah SAW,
menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, suka mempelajari segala yang bermanfaat
baginya dalam merealisasikan tujuan yang telah digariskan oleh Allah Swt.
Seperti yang tercermin dalam Q. S. Al-Mudatsir: 1-3, Al-‘Alaq: 1-5, Adz-Dzariyat:
56-58, Al-Baqarah: 21, Al-Anbiyaa’: 25 dan An-Nahl: 36. Menurut Abdul Fatah
Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba
Allah. Jadi menurut Islam pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang
menghambakan kepada Allah. Yang dimakud menghambakan diri ialah beribada kepada
Allah. Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan
tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah Swt. Tujuan hidup
manusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Seperti dalam surah
Adz-Dzariyat: 56:[15]
وَمَا
خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
Artinya:
Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku
2.
Tujuan
Khusus/ Akhir
Yaitu
perincian dari tujuan umum, atau pengkhususan atau operasional tujuan
tertinggi/ terakhir dan tujuan umum dari tujuan umum pendidikan Islam. Tujuan
khusus bersifat relatif sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan dimana
perlu sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan, selama berpijak pada kerangka
tujuan tertinggi/ terakhir dan umum itu.[16]
Tujuan
Khusus antara lain:
a.
Mendidik
individu yang saleh dengan memperhatikan perkembangan rohaniah, emosional,
sosial, intelektual dan fisik.
b.
Mendidik
anggota kelompok sosial yang saleh, baik dalam keluarga maupun masyarakat
muslim.
c.
Mendidik
manusia yang saleh bagi masyarakat insani yang besar. Ketiga hal tersebut menjadi salah satu tujuan khusus
yang hendak dicapai dalam tujuan pendidikan Islam.
BAB
III
SIMPULAN
Dari pemaparan penulisan di atas,
disini pemakalah mencoba unuk menyimpulkan Hakekat tujuan pendidikan Islam,
yaitu:
1. Tujuan
yang berorientasi pada akhirat, yaitu membentuk hamba-hamba Allah yang dapat
melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada Allah.
2. Tujuan
yang beroientasi pada dunia, yaitu membentuk manusia-manusia yang mampu
menghadapi segala bentuk kehidupan yang lebih layak dan bermanfaat bagi orang
lain.
Dan dari dua tujuan pendidikan
Islam di atas Pemakalah menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam terdapat dua
macam, yaitu: Tujuan umum dan Tujuan Akhir.
1. Tujuan
umum
Tujuan yang akan dicapai dengan semua
kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara yang lainnya.
2. Tujuan
Akhir
Tujuan akhir pendidikan
Islam adalah terciptanya insan kamil.
DAFTAR
PUSTAKA
-
Abudin, Nata, Filafat
Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama; 2005)
-
Al-Ghazali,
Imam, Terjemahan Ihya’ Ulumuddin Jilid I, Alih Bahasa Mohammad Zuhri,
(Semarang, CV. Asy-Syifa’)
-
Al-Qur’an
Terjemah Kudus, (Kudus: Menara Kudus)
-
Arief, Armai, , Pengantar
Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), cet. 1
-
Hasbullah, Dasar-Dasar
Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003)
-
Haitami, Salim
dan Kurniawan, Samsul, Studi Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Ar-Ruzz
Media, 2012)
-
Ihsan, Hamdani
dan Ihsan, Fuad, Filsafat Pendidikan Islam, cet, ke-3 (Bandung: CV.
Pustaka Setia, 2007)
-
Ramayulius, Ilmu
Pendidikan Islam, cet. Ke-5 (Jakarta: Kalam Mulia, 2006)
Saifullah, Ali, Antara Filsafat dan Pendidikan,
(Surabaya: Usaha Nasional, tt)
[1]
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama;
2005), hal. 4.
[2]
Ali Saifullah, Antara Filsafat dan Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional,
tt), hal. 134.
[3]
Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2003), hal. 2
[4]
Ibid.,3-4
[5]
Moh. Salim Haitami dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam,
(Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), cet. 1, hal. 114
[6]
Armai arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, cet, ke-1,
(Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 15
[7]
Nata Abudin, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam Seri Kajian Filsafat
Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal.
[8]
Al-Ghazali, Imam, Terjemahan Ihya’ Ulumuddin Jilid I, Alih Bahasa
Mohammad Zuhri, (Semarang, CV. Asy-Syifa’), hal. 42
[9]
Arief, Armani, Pengantar., 23-24
[10]
Ramayulius, Ilmu Pendidikan Islam, cet. Ke-5 (Jakarta: Kalam Mulia,
2006), hal. 138
[11]
Ibid, hal. 134
[12]
Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, cet, ke-3 (Bandung:
CV. Pustaka Setia, 2007),hal. 64
[13]
Ibid., 68
[14]
Ibid., 65
[15]
Ibid., 68
[16]
Ramayulius., 140
Tidak ada komentar:
Posting Komentar