Total Tayangan Halaman

Rabu, 17 Desember 2014

Makalah Sirah Tarbawy (Ayat 2 pendidikan Kluwarga)

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Banayak orang entah karena kesibukan atau karena salah menafsirkan tentang pendidikan sehingga Orang tua sering melimpahkan tanggung jawab mendidik pada sekolahn yang notabene tugas tersebut terlimpahkan oleh seorang Guru.
Dalam hal pendidikan sebenarnya tidak semua dibebankan pada Guru di sekolah, karena Keluarga dilihat dari perspektif pendidikan merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama dalam kehidupan manusia, kedua orang tua berperan sebagai gurunya dan anaknya berperan sebagai muridnya. Semua mengetahui bahwa pendidikan itu sangat penting, agar akhlak, prilaku, sifat, dan pikiran menjadi lebih baik.
Dalam Islam pun pendidikan di Keluarga juga telah diterangkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang merupakan pedoman bagi Kaum Islam yang di dalamnya tiada keragu-raguan sedikitpun karena merupakan Kalam Illahii Allah SWT. Rabbul ‘Izzati wa Rabbul ‘Alamin.
Al-Qur’an telah menjelaskan bagaimana cara mendidik Keluarga, agar tercipta keluarga yang benar-benar aman damai dan tentram serta sesuai dengan tuntunan dan petunjuk dari Allah SWT. Sehingga kita dan keluarga kita selamat dari siksa dan Azab Allah yang Maha Pedih.
Dari objek permasalahan di atas pemakalah mencoba untuk menjelaskan bagaiman konsep pendidikan dalam Keluarga dan peran Keluarga dalam mendidik sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang tak lain dan tak bukan merupakan pedoman kita umat Islam sehingga kita tak menjadi orang-orang yang sesat. Karena pada zaman sekarang ini, tanggung jawab tersebut menjadi semakin penting mengingat banyaknya sendi kehidupan sosial yang melenceng dari tujuan pendidikan, khususnya tujuan pendidikan Islam, baik itu pengaruh dari media masa, tayangan radio atau televisi atau tempat-tempat yang dilegalisasi untuk pelecehan seksual. Jika peran orang tua tidak siaga dan waspada, berarti mereka telah menyerahkan putra-putrinya pada genggaman setan dan pengikutnya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Konsep Pendidikan dalam Keluarga?
2.      Bagaiman Peran Keluarga dalam Pendidikan Islam sebagaimana di sebutkan dalam Ayat-ayat Al-Qur’an?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui Konsep Pendidikan dalam Keluarga.
2.      Mengerti dan memahami Peran Keluarga dalam Pendidikan Islam sebagaimana di sebutkan dalam Ayat-ayat Al-Qur’an.
3.      Memenuhi tugas makalah Sirah Tarbawy.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Pendidikan dalam Keluarga
Usaha Pendidikan keluarga perlu adanya pengenalan terhadap agama secara ketat terhadap diri anak, agar anak mempunyai pribadi yang baik yang sesuai dengan agama, yang semua itu dapat dimulai dengan mendidik anak pada waktu masih kecil melalui pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya bersama keluarganya yang berperan sebagai pendidik. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Zakiyah Daradjat dalam bukunya Ilmu Jiwa Agama bahwa, “ Perkembangan Agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa-masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari umur 0-12 tahun”.[1]
Dengan demikian, jelaslah bahwa pendidikan keluarga (informal) sangat diperlukan dalam membina kepribadian anak terutama pribadi muslim. Karena pendidikan tersebut dilakukan dalam keluarga, maka orang tualah yang bertanggung jawab dalam pendidikan anaknya demi tercapainya pribadi anak yang kuat.
Karena Pendidikan adalah mengusahakan supaya lebih baik, untuk itu para pembina (Orang tua, Guru dan Keluarga) harus mencari cara yang tepat untuk melaksanakan aktifitas tersebut. Oleh karena keluarga khususnya orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam membina kepribadian anaknya dan mempunyai kedudukan sebagai pendidik yang pertama dan utama dalam kehidupan anaknya, maka kepribadian orang tua seperti sikap dan cara hidup mereka itu merupakan unsur-unsur pendidikan secara tidak langsung akan tumbuh dan berkembang dalam diri anak baik dari segi jasmani maupun rohani.[2]
Anak merupakan rahmat dari Allah SWT, kepada orang tuanya yang harus disyukuri, dididik dan dibina agar menjadi orang yang baik, berkepribadian yang kuat dan berakhlak terpuji, merupakan keinginan setiap keluarga terutama orang tua dan semua guru. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits Nabi yang berbunyi sebagai berikut:
ما من مولود الا يولد على الفطرة فابواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه. (رواه مسلم)
Artinya:
“Tidak seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi atau Nasrani atau Majusi” (HR. Muslim).[3]
Dari Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa, seluruh anak yang dilahirkan ke dunia, itu dalam keadaan suci tiada berdosa dan tiada hukum yang terkait dengannya hingga dia beranjak baligh (dewasa), di situ anak biasanya mengikuti orang tua, misalnya orang tua beragama Kristen, Hindu, Budha, Islam atau Komunis sekalipun akan menurun pada anak-anaknya, seperti pepatah Bahasa Indonesia mengatakan: “Air Cucuran Atap Jatuhnya Kepelimbahan Juga, Sifat Orang tua Biasanya Menurun pada Anak-anaknya. Kecuali mereka yang mendapatkan Hidayah dari Allah SWT. dan mereka yang benar-benar mencari kebenaran yang sejati (Agama Islam).
Dengan demikian jelaslah bahwa konsep pendidikan dalam keluarga yang pertama adalah, membentuk pribadi anak dan selalu mengikuti perkembangan anak, karena anak adalah generasi penerus yang akan membawa keluarga tahap berikutnya. Anak yang terdidik baik tentu akan membawa kebaikan pula bagi keluarganya, begitupun sebaliknya.
B.     Peran Keluarga dalam Pendidikan Islam sebagaimana di sebutkan dalam Ayat-ayat Al-Qur'an.
Dalam Islam, keluarga dikenal dengan istilah usrah, nasl, ‘ali, dan nasb.[4] Lingkungan keluarga adalah lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama mendapatkan pendidikan dan bimbingan dari orang tuanya atau anggota keluarganya. Di dalam keluarga inilah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian anak didik pada usia yang masih muda, karena pada usia ini anak akan lebih peka terhadap pengaruh dari pendidikannya (orang tua dan anggota yang lainnya).[5]
Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menunjukkan pengertian orang tua, menurut penafsiran Muhammad Quraisy Shihab menguraikan definisi orang tua diantaranya ialah: Al-Walidain. Kata ini adalah bentuk dual dari kata الوالد (al-Walid) yang biasa diterjemahkan Bapak/ Ayah. Ada juga kata lain yang menunjukkan kepada Ayah/ Bapak, yaitu kata ﴿اب﴾ Bapak/ ayah dan ﴿ام﴾ Ummi/ Ibu. Akan tetapi sepanjang penelusuran, kata Waalid digunakan secara khusus kepada Ayh/ Bapak biologis (kandung), demikian pula kata الوالدات untuk makna Ibu kandung. Berbeda halnya dengan kata Abb dan Umm yang digunakan baik untuk ayah dan Ibu kandung maupun bukan, seperti Contoh Firman Allah SWT:[6]
وَالْوٰلِدٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلٰدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كاَمِلَيْنِ ....... ﴿233﴾
Artinya:
“Para Ibu hendaknya menyusui Anak-anaknya selama dua tahun penuh,...”
(Q. S. Al-Baqarah: 233)
Orang tua adalah orang yang paling bertanggungjawab dalam suatu keluarga atau rumah tangga, yang dalam kehidupan sehari-hari lazim disebut dengan ibu bapak. Mereka inilah yang berperan dalam kelangsungan suatu rumah tangga. Sedang anak-anaknya atau semua orang yang berada dibawah pengawasan maupun bimbingan dan asuhannya disebut sebagai anggota keluarga.[7]
Dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6, Allah SWT Berfirman:
يٰأۤيُّهاَ الَّذِيْنَ اٰمَنُواْ قُواْ أَنْفُسَكُمْ وَ أَهْلِيْكُمْ ناَراً وَقُوْدُهاَ النَّاسُ وَالْحِجاَرَةُ عَلَيْهاَ مَلۤئِكَةٌ غِلاَظٌ شِداَدٌ لاَيَعْصُوْنَ اللهَ ماۤ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ ماَ يُؤْ مَرُوْنَ ﴿6﴾.
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman..! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya Malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan”.
(Q. S. At-Tahrim: 6)
Pada ayat tersebut dalam Tafsir Al-Maraghi terdapat kata (Qu anfusakum) yang artinya jadilah dirimu pelindung dari api neraka dengan meninggalkan maksiat-maksiat,[8] (wa ahlikum), maksudnya yaitu membawa keluargamu kepada hal itu dengan nasihat dan pelajaran. Kemudian (al-waqud) maksudnya adalah kayu bakar. Sedangkan (al-hijarah) adalah batu berhala yang biasa disembah. (Malaikatun) dalam ayat tersebut yaitu para penjaga neraka yang sembilan belas orang.
Sedangkan (ghiladzun) maksudnya adalah kesat hati dan tidak mau mengasihi apabila mereka dimintai belas kasihan. Dan (syidadun) artinya kuat badan.[9]
Sedangkan dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an mengatakan: Sesungguhnya beban tanggung jawab seorang mukmin dalam dirinya dan keluarganya merupakan beban yang sangat berat dan menakutkan.[10] Sebab neraka telah menantinya di sana, dia beserta keluarganya terancam dengannya. Maka merupakan kewajibannya membentengi dirinya dan keluarganya dari neraka ini yang selalu mengintai dan menantinya, sesungguhnya dia adalah neraka dan api yang menyala-nyala serta membakar hangus.
“Hai orang-orang yang beriman..!! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”.
Manusia di dalam neraka itu sama persis dengan batu, dalam nilai batu yang murah dan rendah, dan dalam kondisi batu yang terabaikan tanpa penghargaan dan perhatian sama sekali. Alangkah sadis dan panasnya api neraka yang dinyalakan bersama dengan batu-batu! alangkah pedihnya azab yang dihimpun dengan kerasnya sengatan kehinaan dan kerendahan! setiap yang ada di dalamnya dan setiap yang berhubungan dengannya sangat seram dan menakutkan.
“Penjaganya Malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan.”
Diantara karakter mereka (Malaikat Penjaga Neraka) adalah ketaatan mutlak terhadap perintah Allah atas mereka. Dan diantara karakter mereka adalah mampu melaksanakan segala yang diperintahkan kepada mereka oleh Allah. Mereka dengan segala tabiat bengis, kejam dan keras, mereka diserahkan tugas untuk melaksanakan azab neraka yang keras dan kejam. Maka hendaklah setiap mukmin melindungi dirinya dan keluarganya dari azab neraka ini.
Mengenai Firman Alllah SWT. ﴿قُواْ أَنْفُسَكُمْ وَ أَهْلِيْكُمْ ناَراً﴾ “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka,” Mujahid mengatakan: “Bertakwalah kepada Allah dan berpesanlah kepada keluarga kalian untuk bertakwa kepada Allah.” Sedangkan Qatadah mengemukakan: Yakni, hendaklah engkau menyuruh mereka berbuat taat kepada Allah dan mencegah mereka durhaka kepada Naya. Dan hendaklah engkau menjalankan perintah allah kepada mereka dan perintahkan mereka untuk menjalankannya, serta membantu mereka dalam menjalankannya. Jika engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, peringatkan dan cegahlah mereka.”
Demikian pula yang dikemukakan oleh Adh-Dahhak dan Muqatil ibn Hayyan, merka mengatakan: “setiap muslim berkewajiban mengajari keluaranya, termasuk kerabat dan budaknya, berbagi hal berkenaan dengan hal-hal yang diwajibkan Allah SWT kepada mereka dan apa yang dilarang-Nya.”
Firman-Nya lebih lanjut, ﴿وَقُوْ دُهاَ النَّاسُ وَالْحِجاَرَةُ﴾ “yang bahan bakarnya adalah maanusia dan batu.” Kata وَقُوْدُ berarti bahan bakarnya adalah tubuh umat manusia yang dilempar kedalamnya (Neraka). وَالْحِجاَرَةُ “dan batu,” ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata itu adalah patung yang dijadikan sembahan. Hal itu didasarkan pada Firman Allah SWT:
إِنَّكُمْ وَماَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهاَ وٰرِدُوْنَ ﴿98﴾.
Artinya:
“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk kedalamnya.”
(Q. S. Al-Anbiyaa’: 98)
Dan Firman Allah SWT selanjutnya, ﴿عَلَيْهاَ مَلآئِكَةٌ غِلاَطٌ شِداَدٌ﴾ “Penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, yang keras.” Maksudnya karakter mereka sangat kasar, di hatinya telah dihilangkan rasa belas kasih terhadap orang-orang yang kafir kepada Allah SWT. شِداَدٌ “yang keras,” maksudnya, susunan tubuh mereka sangat keras, tebal dan penampilannya menakutkan.
Firman-Nya lebih lanjut, ﴿لاَ يَعْصُنَ الله ماَ أَمَرَهُمْ وَيُفْعَلُوْنَ ماَ يُؤْمَرُوْنَ﴾ “yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Maksudnya, apapun yang diperintahkan Allah kepada mereka, mereka segera melaksanakannya, tidak meninggalkan meski hanya sekejap mata dan mereka mampu mengerjakannya, tidak ada kelemahan apapun pada mereka untuk melaksanakan perintah tersebut. Mereka itulah Malaikat Zabaniyah- semoga Allah SWT melindungi kita semua dari mereka.[11]
Ada tiga Aspek orang tua dalam mendidik anak-anaknya antara lain aspek Akidah, syari’at dan akhlak sebagaimana tuntunan tersebut terdapat pada Ayat-ayat dalam Al-Qur'an di sini Pemakalah mengambilkan contoh dari Surat Al-Luqman: 13-19.
1.      Akidah
Aspek aqa’id (akidah) ini menyangkut masalah keimanan kepada Allah, ketika disebut iman kepada Allah, hal ini sudah mencakup iman kepada malaikat, kitab-kitab-Nya, para Nabi, hari kiamat, qodlo’ dan qodar Allah.
Pemakalah akan memberikan contoh beberapa ayat dalam aspek akidah. Allah telah berfirman dalam surah Al-Luqman antar lain pada ayat 13 dan 16:
v  Q. S. Al-Luqman: 13;
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣
Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”
Dalam tafsiran ayat di atas pertama-tama Luqman berpesan agar anaknya menyembah Allah SWT, tiada sekutu bagi Nya kemudian dia mewanti-wanti anaknya bahwa “sesungguhnya mempersekutukan Allah itu benar-benar merupakan kezaliman yang besar”. Syirik merupakan perbuatan terzalim di antara kezaliman.

v  Q. S. Al-Luqman: 16
يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ١٦
Artinya:
“(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.
Kemudian Luqman menjelaskan sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur'an surah Al-Luqman: 16: “Hai anakku, sesungguhnya walaupun ia seberat biji sawi (jika kezaliman atau kesalahan seberat biji sawi), niscaya Allah akan membalasnya pada hari kiamat”. Jika yang seberat biji sawi itu kebaikan maka dibalas kebaikan pula dan bila berupa keburukan maka dibalas dengan keburukan juga. Penggalan ini seperti firman Allah, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun niscaya dia akan melihat (balasan) nya Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (Az-Zalzalah: 7-8) walaupun zarah itu samar dan tersembunyi di pelataran langit dan bumi, niscaya akan ditampilkan oleh Dzat yang Maha Mengetahui. Karena itu Allah Berfirman: “Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. Yakni, Maha Halus pengetahuan-Nya atas berbagai perkara yang lembut dan halus dan Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu, termasuk pada sayap nyamuk di malam gulita. Segala makhluk, baik yang nampak manusia maupun tidak, semuanya dapat diketahui oleh Allah SWT.[12]
Dari penjelasan Surat Al-Luqman ayat 13 dan 16 di atas adalah penting sekali para orang tua menanamkan Akidah pada anak-anaknya agar anak-anak mereka mengenal Allah SWT. semenjak dini. Dengan demikian anak tidak akan tersesat kepada jalan kedzaliman dengan menyembah selain Allah dan diperbudak Harta sehingga lupa akan tanggung jawab pada Allah yang Maha Mengetahui.
2.      Syari’at
Kedua, Aspek  Syari’ah, yakni suatu sistem Ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam, aspek syari’ah ini termaktub dalam ayat 14, 15, dan 17.
v  Q. S. Al-Luqman: 14-15
وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ١٤ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ١٥
Arinya:
14. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.
15. “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
Dalam surah ini ayat 14-15 Allah berfirman: “Dan kami perintahkan kepada Manusia agar berbuat baik kepada kedua Orang Tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang teramat sangat dan menyapihnya dalam dua tahun”. Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT. “Hendaknya para Ibu menyusui anaknya dua tahun penuh, bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuan.” (Al-Baqarah: 233) dari ayat ini Ibnu Abbas menyimpulkan bahwa, masa minimal kehamilan ialah enam bulan, sebab dalam ayat lain Allah berfirman, “mengandung dan menyapihnya adalah 30 bulan.” Allah menceritakan bahwa perawatan Ibu, keletihan dan kesulitannya terjadi siang dan malam selama bulan-bulan tersebut dimaksudkan agar anak senantiasa teringat akan kebaikan Ibu yang telah diberikan kepadanya. Karena itu Allah berfirman, “Syukurlah kepada-Ku dan kepada kedua Orang tuamu. Hanya Aku lah tempat kembali,” karena aku akan membalasmu dengan balasan yang berlipat.
Kemudian Allah melanjutkan firmanNya dalam ayat selanjutnya: “dan jika keduanya (orang Tua) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui maka janganlah kamu mentaati keduanya”. Jika keduanya memaksamu agar mengikuti agamanya maka janganlah menaatinya. Namun, hal itu jangan menghalangimu untuk berbuat baik kepada keduanya.[13]
v  Q. S. Al-Luqman: 17
يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٧
Arinya:
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.
“Hai anakku, dirikanlah shalat” sejalan dengan kewajiban, hukum, rukun, dan waktunya, “dan suruhlah Manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar” sesuai dengan kesanggupanmu “serta bersabarlah taerhadap apa yang menimpamu” sebab orang yang menyeru ke jalan Allah, pasti mendapatkan gangguan. “sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-halhal yang ditetapkan” sesungguhnya kesabaran dalam menghadapi gangguan manusi merupakan ketetapan yang diberikan Allah kepada para penyeru Agama Allah.[14]



3.      Akhlak
Ketiga, Aspek Akhlaq, secara etimologis, akhlaq adalah perbuatan yang mempunyai sangkut paut dengan Khaliq, aspek ini termaktub dalam ayat 14, 15, 18 dan 19.
v  Q. S. Al-Luqman: 18-19
وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ١٨ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ١٩
Artinya:
18.“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.
19.“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)”. Asal makna Sha’ara ialah penyakit yang menimpa leher unta hingga kepalanya borok dan kaku, unta yang demikianlah diserupakan dengan orang sombong yang memalingkan wajahnya dan khalayak, tatkala dia berkata kepada mereka atau sebaliknya karena memandang mereka hina dan karena kesombongannya sesungguhnya Allah melarang berbuat demikian.
Kemudian Firman Allah selanjutnya: “dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh”. Yakni dengan congkak dan sombong. Janganlah kamu berbuat demikian. Allah akan memurkaimu. Karena itu, Allah Berfirman dalam surah Al-Isa’: 37
وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ طُولٗا ٣٧
Artinya:
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”.
Ayat selanjutnya Allah Swt berfirman: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan”. Yakni tidak lambat tidak pula cepat, namun pertengahan diantara keduanya. Pada penggalan berikutnya Allah berfirman: “dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. Yakni janganlah kamu meninggikan suaramu tanpa guna. Karena itu Allah berfirman: Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai yaitu, tidak ada suara yang buruk selain suara yang keras yang diserupakan dengan suara keledai dalam hal melengking dan kerasnya. Disamping buruk, hal itu juga dimurkai Allah Swt. Penyerupaan suara keras dengan suara keledai.[15]
Dari pemaparan tafsiran Al-Qur’an surah Al-Luqman ayat 13-19 dijelaskan bahwa pendidikan dalam keluarga penting dalam hal membentuk karakter anak Mulai dari Akidah, Syari’at dan Akhlak. Selain menyerahkan tanggung jawab pendidikan pada Guru di sekolah, akan tetapi jika sudah berada dalam lingkungan keluarga tanggung jawab tersebut telah menjadi tanggung jawab Orang tua.
sepenggal surah di atas hanyalah sebagian contoh kecil yang pemakalah sajikan, selebihnya masih banyak lagi keterangan-keterangan yang berkaitan tentang pendidikan dalam keluarga.
BAB III
SIMPULAN

Setelah pemakalah menerangkan panjang lebar pengertian tentang Konsep pendidikan dalam keluarga serta peraannya sebagaimana yang disebutkan ayat-ayat Al-Qur’an. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep pendidikan dalam keluarga yang pertama adalah, membentuk pribadi anak dan selalu mengikuti perkembangan anak, karena anak adalah generasi penerus yang akan membawa keluarga pada tahap berikutnya. Anak yang terdidik baik tentu akan membawa kebaikan pula bagi keluarganya, begitupun sebaliknya.
Untuk tercapainya hal di atas dibutuhkan pula peran Orang tua sehingga Orang tua tidak hanya berpangku tangan pada pendidikan sekolah, tapi juga ikut memantau pendidikan anak, apabila hal tersebut sebagaimana ayat-ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan pemakalah di atas, maka bukan hanya tujuan pendidikan yang tak lain adalah menciptakan Insan Kamil akan tercapai akan tetapi kita juga akan selamat dari Neraka Allah yang Maha Pedih yang di jaga oleh Malaikat-malaikat yang Kejam tanpa belas kasihan (Malaikat Zabaniyah) Na’udzubillah semoga kita tidak termasuk orang yang menjumpai Malaikat-Malaikat Zabaniyah. Amien..
Demikianlah makalah ini kami buat selain untuk tugas Makalah Tafsir Tarbawy, tapi juga menjadi pelajaran bagi pemakalah khususnya dan pembaca umumnya. Sehingga kita menjadi orang yang terselamatkan dari fitnah kubur dan siksa Neraka. Tidak lupa pula kami ucapkan trimakasih kepada Dr. H. Hammis Syafaq, M. Ag. Yang telah memberi kami pelajaran, karena petunjuk dari Allah yang di perantarakan beliau, kami semua memahami dan mencari hal yang belum kami ketahui. Semoga beliau senantiasa sehat dan dilindungi oleh Allah SWT. Dan semoga Makalah yang sederhana ini bermanfaat bagi ummat yang benar-benar mencari petunjuk akan tanda-tanda dari Allah. Amien.
DAFTAR PUSTAKA

n  Al-Maraghi, Mustafa, Ahmad, Tafsir al- Maraghi,Terj. Bahrun Abu Bakar, Dkk, Jilid 28, (Semarang:CV. Toha putra, 1993),
n  Ar-Rifa’I, Nasib, Muhammad, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3 dan 4, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000)
n  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996)
n  Dradjat, Zakia, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1991)
n  Katsir, Ibnu, Tafsirul Qur’anil ‘Adhim, diterjemahkan oleh: Bahrun Abu bakar, Lc, dkk, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000)
n  Mujib, Abdul, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. ke- 2, (Jakarta: Kencana, 2008)
n  Muslim, Imam, Shahih Muslim, Juz II, (Surabaya: Syarikat ‘Alawi, tt)
n  Nurwadjah, Ahmad, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan; Hati Yang Selamat Hingga Kisah Luqman, (Bandung: PT Marja, 2007)
n  Quthb, Sayyid, Tafsir Fi Dzilalil Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Pers. 2004)
n  Sihab, M. Quraish, , Tafsir Al-Misbah; Secercah Cahaya Illahi-Hidup Bersama Al-Qur'an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002)
Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008)


[1] Zakia Dradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1991), hal. 74
[2] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hal. 134
[3] Imam Muslim, Shahih Muslim, Juz II, (Surabaya: Syarikat ‘Alawi, tt), hal. 458
[4] Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2008). Cet. ke- 2. hlm.226
[5] Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), hlm. 177
[6] M. Quraish, Sihab, Tafsir Al-Misbah; Secercah Cahaya Illahi-Hidup Bersama Al-Qur'an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hal. 437
[7] Ahmad, Nurwadjah, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan; Hati Yang Selamat Hingga Kisah Luqman, (Bandung: PT Marja, 2007)
[8] Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al- Maraghi,Terj. Bahrun Abu Bakar,Dkk, (Semarang:CV. Toha putra, 1993), Jilid 28, hlm. 259
[9] Ibid,. 260
[10] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Dzilalil Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Pers. 2004). hlm. 338
[11] Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000),hlm.751
[12] Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000),hlm. 789, 792.
[13] Ibid,. 790-791
[14] Ibid,. 792
[15] Ibid,. 790-793

Tidak ada komentar:

Posting Komentar