BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Banayak orang entah karena kesibukan atau karena salah menafsirkan tentang
pendidikan sehingga Orang tua sering melimpahkan tanggung jawab mendidik pada
sekolahn yang notabene tugas tersebut terlimpahkan oleh seorang Guru.
Dalam hal pendidikan sebenarnya tidak semua dibebankan pada Guru di
sekolah, karena Keluarga dilihat dari perspektif
pendidikan merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama dalam kehidupan
manusia, kedua orang tua berperan sebagai gurunya dan anaknya berperan sebagai
muridnya. Semua mengetahui bahwa pendidikan itu sangat penting, agar akhlak,
prilaku, sifat, dan pikiran menjadi lebih baik.
Dalam Islam pun pendidikan di Keluarga juga telah
diterangkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang merupakan pedoman bagi Kaum Islam
yang di dalamnya tiada keragu-raguan sedikitpun karena merupakan Kalam
Illahii Allah SWT. Rabbul ‘Izzati wa Rabbul ‘Alamin.
Al-Qur’an telah menjelaskan bagaimana cara mendidik
Keluarga, agar tercipta keluarga yang benar-benar aman damai dan tentram serta
sesuai dengan tuntunan dan petunjuk dari Allah SWT. Sehingga kita dan keluarga
kita selamat dari siksa dan Azab Allah yang Maha Pedih.
Dari objek permasalahan di atas pemakalah mencoba
untuk menjelaskan bagaiman konsep pendidikan dalam Keluarga dan peran Keluarga
dalam mendidik sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang
tak lain dan tak bukan merupakan pedoman kita umat Islam sehingga kita tak
menjadi orang-orang yang sesat. Karena pada zaman sekarang
ini, tanggung jawab tersebut menjadi semakin penting mengingat banyaknya sendi
kehidupan sosial yang melenceng dari tujuan pendidikan, khususnya tujuan
pendidikan Islam, baik itu pengaruh dari media masa, tayangan radio atau
televisi atau tempat-tempat yang dilegalisasi untuk pelecehan seksual. Jika peran
orang tua tidak siaga dan waspada, berarti mereka telah menyerahkan
putra-putrinya pada genggaman setan dan pengikutnya.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
Konsep Pendidikan dalam Keluarga?
2. Bagaiman
Peran Keluarga dalam Pendidikan Islam sebagaimana di sebutkan dalam Ayat-ayat
Al-Qur’an?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui Konsep Pendidikan dalam Keluarga.
2.
Mengerti dan memahami Peran Keluarga
dalam Pendidikan Islam sebagaimana di sebutkan dalam Ayat-ayat Al-Qur’an.
3.
Memenuhi tugas makalah Sirah Tarbawy.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Pendidikan dalam Keluarga
Usaha
Pendidikan keluarga perlu adanya pengenalan terhadap agama secara ketat
terhadap diri anak, agar anak mempunyai pribadi yang baik yang sesuai dengan
agama, yang semua itu dapat dimulai dengan mendidik anak pada waktu masih kecil
melalui pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya bersama keluarganya yang
berperan sebagai pendidik. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Zakiyah Daradjat
dalam bukunya Ilmu Jiwa Agama bahwa, “ Perkembangan Agama pada anak
sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada
masa-masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari umur 0-12 tahun”.[1]
Dengan
demikian, jelaslah bahwa pendidikan keluarga (informal) sangat diperlukan dalam
membina kepribadian anak terutama pribadi muslim. Karena pendidikan tersebut
dilakukan dalam keluarga, maka orang tualah yang bertanggung jawab dalam
pendidikan anaknya demi tercapainya pribadi anak yang kuat.
Karena
Pendidikan adalah mengusahakan supaya lebih baik, untuk itu para pembina (Orang
tua, Guru dan Keluarga) harus mencari cara yang tepat untuk melaksanakan
aktifitas tersebut. Oleh karena keluarga khususnya orang tua mempunyai peranan
yang sangat penting dalam membina kepribadian anaknya dan mempunyai kedudukan sebagai
pendidik yang pertama dan utama dalam kehidupan anaknya, maka kepribadian orang
tua seperti sikap dan cara hidup mereka itu merupakan unsur-unsur pendidikan
secara tidak langsung akan tumbuh dan berkembang dalam diri anak baik dari segi
jasmani maupun rohani.[2]
Anak
merupakan rahmat dari Allah SWT, kepada orang tuanya yang harus disyukuri,
dididik dan dibina agar menjadi orang yang baik, berkepribadian yang kuat dan
berakhlak terpuji, merupakan keinginan setiap keluarga terutama orang tua dan
semua guru. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits Nabi yang berbunyi
sebagai berikut:
ما من مولود الا يولد على الفطرة فابواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه. (رواه مسلم)
Artinya:
“Tidak seorang anak dilahirkan
kecuali dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi
atau Nasrani atau Majusi” (HR. Muslim).[3]
Dari Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di atas dapat
di tarik kesimpulan bahwa, seluruh anak yang dilahirkan ke dunia, itu dalam
keadaan suci tiada berdosa dan tiada hukum yang terkait dengannya hingga dia
beranjak baligh (dewasa), di situ anak biasanya mengikuti orang tua, misalnya
orang tua beragama Kristen, Hindu, Budha, Islam atau Komunis sekalipun akan
menurun pada anak-anaknya, seperti pepatah Bahasa Indonesia mengatakan: “Air
Cucuran Atap Jatuhnya Kepelimbahan Juga, Sifat Orang tua Biasanya Menurun pada
Anak-anaknya. Kecuali mereka yang mendapatkan Hidayah dari Allah SWT. dan
mereka yang benar-benar mencari kebenaran yang sejati (Agama Islam).
Dengan
demikian jelaslah bahwa konsep pendidikan dalam keluarga yang pertama adalah,
membentuk pribadi anak dan selalu mengikuti perkembangan anak, karena anak
adalah generasi penerus yang akan membawa keluarga tahap berikutnya. Anak yang terdidik baik tentu akan membawa kebaikan pula bagi keluarganya,
begitupun sebaliknya.
B.
Peran
Keluarga dalam Pendidikan Islam sebagaimana di sebutkan dalam Ayat-ayat Al-Qur'an.
Dalam Islam, keluarga dikenal dengan istilah usrah, nasl, ‘ali, dan nasb.[4]
Lingkungan keluarga adalah lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam
keluarga inilah anak pertama mendapatkan pendidikan dan bimbingan dari orang
tuanya atau anggota keluarganya. Di dalam keluarga inilah tempat meletakkan
dasar-dasar kepribadian anak didik pada usia yang masih muda, karena pada usia
ini anak akan lebih peka terhadap pengaruh dari pendidikannya (orang tua dan
anggota yang lainnya).[5]
Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menunjukkan pengertian orang tua,
menurut penafsiran Muhammad Quraisy Shihab menguraikan definisi orang tua
diantaranya ialah: Al-Walidain. Kata ini adalah bentuk dual dari kata الوالد (al-Walid)
yang biasa diterjemahkan Bapak/ Ayah. Ada juga kata lain yang menunjukkan
kepada Ayah/ Bapak, yaitu kata ﴿اب﴾ Bapak/ ayah dan ﴿ام﴾ Ummi/ Ibu.
Akan tetapi sepanjang penelusuran, kata Waalid digunakan secara khusus
kepada Ayh/ Bapak biologis (kandung), demikian pula kata الوالدات untuk makna
Ibu kandung. Berbeda halnya dengan kata Abb dan Umm yang
digunakan baik untuk ayah dan Ibu kandung maupun bukan, seperti Contoh Firman
Allah SWT:[6]
وَالْوٰلِدٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلٰدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كاَمِلَيْنِ ....... ﴿233﴾
Artinya:
“Para Ibu hendaknya menyusui Anak-anaknya selama dua tahun penuh,...”
(Q. S. Al-Baqarah: 233)
Orang tua adalah orang yang paling bertanggungjawab dalam suatu keluarga
atau rumah tangga, yang dalam kehidupan sehari-hari lazim disebut dengan ibu
bapak. Mereka inilah yang berperan dalam kelangsungan suatu rumah tangga.
Sedang anak-anaknya atau semua orang yang berada dibawah pengawasan maupun
bimbingan dan asuhannya disebut sebagai anggota keluarga.[7]
Dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6, Allah SWT Berfirman:
يٰأۤيُّهاَ الَّذِيْنَ اٰمَنُواْ قُواْ أَنْفُسَكُمْ وَ أَهْلِيْكُمْ ناَراً
وَقُوْدُهاَ النَّاسُ وَالْحِجاَرَةُ عَلَيْهاَ مَلۤئِكَةٌ غِلاَظٌ شِداَدٌ
لاَيَعْصُوْنَ اللهَ ماۤ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ ماَ يُؤْ مَرُوْنَ ﴿6﴾.
Artinya:
“Hai orang-orang
yang beriman..! peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu. Penjaganya Malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan”.
(Q. S. At-Tahrim: 6)
Pada ayat tersebut dalam Tafsir Al-Maraghi terdapat kata (Qu anfusakum) yang
artinya jadilah dirimu pelindung dari api neraka dengan meninggalkan maksiat-maksiat,[8] (wa ahlikum), maksudnya
yaitu membawa keluargamu kepada hal itu dengan nasihat dan pelajaran. Kemudian (al-waqud)
maksudnya adalah kayu bakar. Sedangkan (al-hijarah) adalah batu
berhala yang biasa disembah. (Malaikatun) dalam ayat tersebut
yaitu para penjaga neraka yang sembilan belas orang.
Sedangkan (ghiladzun) maksudnya
adalah kesat hati dan tidak mau mengasihi apabila mereka dimintai belas
kasihan. Dan (syidadun) artinya kuat
badan.[9]
Sedangkan dalam Tafsir Fi
Dzilalil Qur’an mengatakan: Sesungguhnya beban tanggung jawab seorang
mukmin dalam dirinya dan keluarganya merupakan beban yang sangat berat dan
menakutkan.[10]
Sebab neraka telah menantinya di sana, dia beserta keluarganya terancam
dengannya. Maka merupakan kewajibannya membentengi dirinya dan keluarganya dari
neraka ini yang selalu mengintai dan menantinya, sesungguhnya dia adalah neraka
dan api yang menyala-nyala serta membakar hangus.
“Hai orang-orang yang
beriman..!! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu”.
Manusia di dalam neraka itu sama persis dengan batu, dalam nilai batu yang
murah dan rendah, dan dalam kondisi batu yang terabaikan tanpa penghargaan dan
perhatian sama sekali. Alangkah sadis dan panasnya api neraka yang dinyalakan
bersama dengan batu-batu! alangkah pedihnya azab yang dihimpun dengan kerasnya
sengatan kehinaan dan kerendahan! setiap yang ada di dalamnya dan setiap yang
berhubungan dengannya sangat seram dan menakutkan.
“Penjaganya
Malaikat yang kasar, keras dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan.”
Diantara karakter mereka
(Malaikat Penjaga Neraka) adalah ketaatan mutlak terhadap perintah Allah atas
mereka. Dan diantara karakter mereka adalah mampu melaksanakan segala yang
diperintahkan kepada mereka oleh Allah. Mereka dengan segala tabiat bengis,
kejam dan keras, mereka diserahkan tugas untuk melaksanakan azab neraka yang
keras dan kejam. Maka hendaklah setiap mukmin melindungi dirinya dan
keluarganya dari azab neraka ini.
Mengenai Firman Alllah SWT. ﴿قُواْ أَنْفُسَكُمْ وَ أَهْلِيْكُمْ ناَراً﴾ “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka,”
Mujahid mengatakan: “Bertakwalah kepada Allah dan berpesanlah kepada keluarga
kalian untuk bertakwa kepada Allah.” Sedangkan Qatadah mengemukakan: Yakni,
hendaklah engkau menyuruh mereka berbuat taat kepada Allah dan mencegah mereka
durhaka kepada Naya. Dan hendaklah engkau menjalankan perintah allah kepada
mereka dan perintahkan mereka untuk menjalankannya, serta membantu mereka dalam
menjalankannya. Jika engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah,
peringatkan dan cegahlah mereka.”
Demikian pula yang dikemukakan oleh Adh-Dahhak dan Muqatil ibn Hayyan,
merka mengatakan: “setiap muslim berkewajiban mengajari keluaranya, termasuk
kerabat dan budaknya, berbagi hal berkenaan dengan hal-hal yang diwajibkan
Allah SWT kepada mereka dan apa yang dilarang-Nya.”
Firman-Nya lebih lanjut, ﴿وَقُوْ دُهاَ النَّاسُ وَالْحِجاَرَةُ﴾ “yang bahan bakarnya adalah maanusia dan batu.” Kata وَقُوْدُ berarti bahan bakarnya adalah tubuh
umat manusia yang dilempar kedalamnya (Neraka). وَالْحِجاَرَةُ “dan batu,” ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud
dengan kata itu adalah patung yang dijadikan sembahan. Hal itu didasarkan pada Firman Allah SWT:
إِنَّكُمْ وَماَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ
لَهاَ وٰرِدُوْنَ ﴿98﴾.
Artinya:
“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain
Allah adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk kedalamnya.”
(Q. S. Al-Anbiyaa’: 98)
Dan Firman Allah
SWT selanjutnya, ﴿عَلَيْهاَ مَلآئِكَةٌ غِلاَطٌ
شِداَدٌ﴾
“Penjaganya
Malaikat-Malaikat yang kasar, yang keras.” Maksudnya karakter mereka sangat
kasar, di hatinya telah dihilangkan rasa belas kasih terhadap orang-orang yang
kafir kepada Allah SWT. شِداَدٌ “yang
keras,” maksudnya, susunan tubuh mereka sangat keras, tebal dan
penampilannya menakutkan.
Firman-Nya lebih lanjut, ﴿لاَ يَعْصُنَ الله ماَ أَمَرَهُمْ وَيُفْعَلُوْنَ ماَ
يُؤْمَرُوْنَ﴾ “yang
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Maksudnya, apapun yang
diperintahkan Allah kepada mereka, mereka segera melaksanakannya, tidak
meninggalkan meski hanya sekejap mata dan mereka mampu mengerjakannya, tidak
ada kelemahan apapun pada mereka untuk melaksanakan perintah tersebut. Mereka itulah Malaikat Zabaniyah- semoga Allah SWT
melindungi kita semua dari mereka.[11]
Ada tiga Aspek
orang tua dalam mendidik anak-anaknya antara lain aspek Akidah, syari’at dan
akhlak sebagaimana tuntunan tersebut terdapat pada Ayat-ayat dalam Al-Qur'an di
sini Pemakalah mengambilkan contoh dari Surat Al-Luqman: 13-19.
1.
Akidah
Aspek aqa’id (akidah) ini menyangkut masalah
keimanan kepada Allah, ketika disebut iman kepada Allah, hal ini sudah mencakup
iman kepada malaikat, kitab-kitab-Nya, para Nabi, hari kiamat, qodlo’
dan qodar Allah.
Pemakalah akan memberikan contoh beberapa ayat dalam
aspek akidah. Allah telah berfirman dalam surah Al-Luqman antar lain pada ayat
13 dan 16:
v Q. S. Al-Luqman:
13;
وَإِذۡ
قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ
إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣
Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya,
di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang
besar”
Dalam tafsiran ayat di atas
pertama-tama Luqman berpesan agar anaknya menyembah Allah SWT, tiada sekutu
bagi Nya kemudian dia mewanti-wanti anaknya bahwa “sesungguhnya mempersekutukan
Allah itu benar-benar merupakan kezaliman yang besar”. Syirik merupakan
perbuatan terzalim di antara kezaliman.
v Q. S. Al-Luqman: 16
يَٰبُنَيَّ
إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ
فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ
لَطِيفٌ خَبِيرٞ ١٦
Artinya:
“(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya
jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di
langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya).
Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.
Kemudian Luqman menjelaskan
sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur'an surah Al-Luqman: 16: “Hai anakku,
sesungguhnya walaupun ia seberat biji sawi (jika kezaliman atau kesalahan
seberat biji sawi), niscaya Allah akan membalasnya pada hari kiamat”. Jika
yang seberat biji sawi itu kebaikan maka dibalas kebaikan pula dan bila berupa
keburukan maka dibalas dengan keburukan juga. Penggalan ini seperti firman
Allah, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat
dzarrahpun
niscaya dia akan melihat (balasan) nya Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (Az-Zalzalah: 7-8) walaupun zarah itu samar dan
tersembunyi di pelataran langit dan bumi, niscaya akan ditampilkan oleh Dzat
yang Maha Mengetahui. Karena itu Allah Berfirman: “Sesungguhnya Allah Maha
Halus lagi Maha Mengetahui”. Yakni, Maha Halus pengetahuan-Nya atas
berbagai perkara yang lembut dan halus dan Maha Mengetahui terhadap segala
sesuatu, termasuk pada sayap nyamuk di malam gulita. Segala makhluk, baik yang
nampak manusia maupun tidak, semuanya dapat diketahui oleh Allah SWT.[12]
Dari penjelasan Surat
Al-Luqman ayat 13 dan 16 di atas adalah penting sekali para orang tua
menanamkan Akidah pada anak-anaknya agar anak-anak mereka mengenal Allah SWT.
semenjak dini. Dengan demikian anak tidak akan tersesat kepada jalan kedzaliman
dengan menyembah selain Allah dan diperbudak Harta sehingga lupa akan tanggung
jawab pada Allah yang Maha Mengetahui.
2. Syari’at
Kedua, Aspek Syari’ah, yakni suatu sistem Ilahi yang
mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan
hubungan manusia dengan alam, aspek syari’ah ini termaktub dalam ayat 14, 15,
dan 17.
v Q. S. Al-Luqman: 14-15
وَوَصَّيۡنَا
ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ
فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ١٤ وَإِن
جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا
تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ
أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ
تَعۡمَلُونَ ١٥
Arinya:
14. “Dan Kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu”.
15. “Dan jika
keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
Dalam surah ini ayat 14-15
Allah berfirman: “Dan kami perintahkan kepada Manusia agar berbuat baik
kepada kedua Orang Tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan
lemah yang teramat sangat dan menyapihnya dalam dua tahun”. Hal ini sebagaimana
Firman Allah SWT. “Hendaknya para Ibu menyusui anaknya dua tahun penuh, bagi
siapa yang hendak menyempurnakan penyusuan.” (Al-Baqarah: 233) dari ayat
ini Ibnu Abbas menyimpulkan bahwa, masa minimal kehamilan ialah enam bulan,
sebab dalam ayat lain Allah berfirman, “mengandung dan menyapihnya adalah 30
bulan.” Allah menceritakan bahwa perawatan Ibu, keletihan dan kesulitannya
terjadi siang dan malam selama bulan-bulan tersebut dimaksudkan agar anak
senantiasa teringat akan kebaikan Ibu yang telah diberikan kepadanya. Karena
itu Allah berfirman, “Syukurlah kepada-Ku dan kepada kedua Orang tuamu.
Hanya Aku lah tempat kembali,” karena aku akan membalasmu dengan balasan yang
berlipat.
Kemudian Allah melanjutkan
firmanNya dalam ayat selanjutnya: “dan jika keduanya (orang Tua) memaksamu
untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui maka janganlah
kamu mentaati keduanya”. Jika keduanya memaksamu agar mengikuti agamanya
maka janganlah menaatinya. Namun, hal itu jangan menghalangimu untuk berbuat
baik kepada keduanya.[13]
v Q. S. Al-Luqman: 17
يَٰبُنَيَّ
أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ
عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٧
Arinya:
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia)
mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.
“Hai anakku, dirikanlah shalat” sejalan dengan kewajiban, hukum,
rukun, dan waktunya, “dan suruhlah Manusia mengerjakan yang baik dan
cegahlah dari perbuatan yang mungkar” sesuai dengan kesanggupanmu “serta
bersabarlah taerhadap apa yang menimpamu” sebab orang yang menyeru ke jalan
Allah, pasti mendapatkan gangguan. “sesungguhnya yang demikian itu termasuk
hal-halhal yang ditetapkan” sesungguhnya kesabaran dalam menghadapi
gangguan manusi merupakan ketetapan yang diberikan Allah kepada para penyeru
Agama Allah.[14]
3. Akhlak
Ketiga, Aspek Akhlaq, secara
etimologis, akhlaq adalah perbuatan yang mempunyai sangkut paut dengan Khaliq, aspek
ini termaktub dalam ayat 14, 15, 18 dan 19.
v Q. S. Al-Luqman: 18-19
وَلَا
تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ
لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ١٨ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن
صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ١٩
Artinya:
18.“Dan janganlah
kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu
berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.
19.“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia
(karena sombong)”. Asal makna Sha’ara ialah penyakit yang menimpa leher
unta hingga kepalanya borok dan kaku, unta yang demikianlah diserupakan dengan
orang sombong yang memalingkan wajahnya dan khalayak, tatkala dia berkata
kepada mereka atau sebaliknya karena memandang mereka hina dan karena
kesombongannya sesungguhnya Allah melarang berbuat demikian.
Kemudian Firman Allah
selanjutnya: “dan janganlah kamu
berjalan di muka bumi dengan angkuh”. Yakni dengan congkak dan
sombong. Janganlah kamu berbuat demikian. Allah akan memurkaimu. Karena itu,
Allah Berfirman dalam surah Al-Isa’: 37
وَلَا
تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ
طُولٗا ٣٧
Artinya:
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan
sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan
sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”.
Ayat selanjutnya Allah Swt berfirman: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan”.
Yakni tidak lambat tidak pula cepat, namun pertengahan diantara keduanya. Pada
penggalan berikutnya Allah berfirman: “dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. Yakni janganlah kamu meninggikan
suaramu tanpa guna. Karena itu Allah berfirman: Sesungguhnya seburuk-buruk
suara ialah suara keledai yaitu, tidak ada suara yang buruk selain suara
yang keras yang diserupakan dengan suara keledai dalam hal melengking dan
kerasnya. Disamping buruk, hal itu juga dimurkai Allah Swt. Penyerupaan suara
keras dengan suara keledai.[15]
Dari pemaparan tafsiran Al-Qur’an surah Al-Luqman
ayat 13-19 dijelaskan bahwa pendidikan dalam keluarga penting dalam hal
membentuk karakter anak Mulai dari Akidah, Syari’at dan Akhlak. Selain
menyerahkan tanggung jawab pendidikan pada Guru di sekolah, akan tetapi jika
sudah berada dalam lingkungan keluarga tanggung jawab tersebut telah menjadi tanggung
jawab Orang tua.
sepenggal surah di atas hanyalah sebagian contoh
kecil yang pemakalah sajikan, selebihnya masih banyak lagi
keterangan-keterangan yang berkaitan tentang pendidikan dalam keluarga.
BAB
III
SIMPULAN
Setelah
pemakalah menerangkan panjang lebar pengertian tentang Konsep pendidikan dalam
keluarga serta peraannya sebagaimana yang disebutkan ayat-ayat Al-Qur’an. Maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep pendidikan dalam keluarga yang pertama
adalah, membentuk pribadi anak dan selalu mengikuti perkembangan anak, karena
anak adalah generasi penerus yang akan membawa keluarga pada tahap berikutnya. Anak yang terdidik baik tentu akan membawa kebaikan pula bagi keluarganya,
begitupun sebaliknya.
Untuk tercapainya hal di atas
dibutuhkan pula peran Orang tua sehingga Orang tua tidak hanya berpangku tangan
pada pendidikan sekolah, tapi juga ikut memantau pendidikan anak, apabila hal
tersebut sebagaimana ayat-ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan pemakalah di
atas, maka bukan hanya tujuan pendidikan yang tak lain adalah menciptakan Insan
Kamil akan tercapai akan tetapi kita juga akan selamat dari Neraka Allah
yang Maha Pedih yang di jaga oleh Malaikat-malaikat yang Kejam tanpa belas
kasihan (Malaikat Zabaniyah) Na’udzubillah semoga kita tidak termasuk
orang yang menjumpai Malaikat-Malaikat Zabaniyah. Amien..
Demikianlah makalah ini kami buat
selain untuk tugas Makalah Tafsir Tarbawy, tapi juga menjadi pelajaran bagi
pemakalah khususnya dan pembaca umumnya. Sehingga kita menjadi orang yang
terselamatkan dari fitnah kubur dan siksa Neraka. Tidak lupa pula kami ucapkan
trimakasih kepada Dr. H. Hammis Syafaq, M. Ag. Yang telah memberi kami
pelajaran, karena petunjuk dari Allah yang di perantarakan beliau, kami semua
memahami dan mencari hal yang belum kami ketahui. Semoga beliau senantiasa
sehat dan dilindungi oleh Allah SWT. Dan semoga Makalah yang sederhana ini
bermanfaat bagi ummat yang benar-benar mencari petunjuk akan tanda-tanda dari
Allah. Amien.
DAFTAR
PUSTAKA
n Al-Maraghi,
Mustafa, Ahmad, Tafsir al- Maraghi,Terj. Bahrun Abu Bakar, Dkk, Jilid 28, (Semarang:CV. Toha putra,
1993),
n Ar-Rifa’I,
Nasib, Muhammad, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3 dan 4,
(Jakarta: Gema Insani Press, 2000)
n Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
(Jakarta: Balai Pustaka, 1996)
n Dradjat,
Zakia, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1991)
n Katsir,
Ibnu, Tafsirul Qur’anil ‘Adhim, diterjemahkan oleh: Bahrun Abu
bakar, Lc, dkk, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000)
n Mujib,
Abdul, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. ke- 2, (Jakarta: Kencana,
2008)
n Muslim,
Imam, Shahih Muslim, Juz II, (Surabaya: Syarikat ‘Alawi, tt)
n Nurwadjah,
Ahmad, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan; Hati Yang Selamat Hingga Kisah Luqman,
(Bandung: PT Marja, 2007)
n Quthb,
Sayyid, Tafsir Fi Dzilalil Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Pers.
2004)
n Sihab,
M. Quraish, , Tafsir Al-Misbah; Secercah Cahaya Illahi-Hidup Bersama Al-Qur'an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002)
Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam,
(Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008)
[1]
Zakia Dradjat, Ilmu
Jiwa Agama, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1991), hal. 74
[2]
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1996), hal. 134
[6]
M. Quraish, Sihab, Tafsir Al-Misbah; Secercah Cahaya Illahi-Hidup
Bersama Al-Qur'an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hal. 437
[7]
Ahmad, Nurwadjah, Tafsir
Ayat-Ayat Pendidikan; Hati Yang Selamat Hingga Kisah Luqman, (Bandung:
PT Marja, 2007)
[8]
Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir
al- Maraghi,Terj. Bahrun
Abu Bakar,Dkk, (Semarang:CV.
Toha putra, 1993), Jilid 28, hlm. 259
[9]
Ibid,. 260
[11] Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan
Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000),hlm.751
[12]
Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan
Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3, (Jakarta: Gema Insani Press,
2000),hlm. 789, 792.
[15] Ibid,. 790-793
Tidak ada komentar:
Posting Komentar